Review Kalung Amber Beads

Banyak sekali hal-hal baru yang saya hadapi seputar tumbuh kembang si Alex. Seringkali hal-hal baru itu saya hadapi dengan panik..misalnya saat Alex sakit pertama kali di usia 2 bulan, karena saya dengar kalau anak bayi harus hangat, saya bedong dia setebal-tebalnya..akibatnya Alex panasnya malah tambah tinggi, saya langsung menangis sejadinya. Ada lagi ujian pertama ruam popok; Alex mendadak menderita ruam popok parah di usia 1 bulan, karena saya ketiduran dan telat mengganti popoknya. Alex menangis sepanjang sesi mandi, dan tidak bisa tenang saat minum susu..lagi-lagi saya ikutan nangis. Puji Tuhan, saya, suami dan Alex bisa melalui masa-masa pengenalan dan penyesuaian sampai sekarang..tapi perjalanan masih panjang. Nah, untuk topik pertumbuhan gigi pada anak bayi, ada beberapa gejala yang dikaitkan erat. Mencret, demam, suka gigit-gigit, tangan masuk ke mulut, ngileran..you name it. Saya sudah parno minta ampun…Beruntungnya, Alex tidak pernah mengalami gejala mencret dan demam selama masa tumbuh gigi; tapi dia suka banget masukkan tangan ke mulut dan menggigit-gigit apa saja..ngilu kali ya gusinya, dan kalau dilarang, dia akan throw tantrum…semacam bete gitu kalo kita sedang asyik browsing tiba-tiba kuota habis. Hahahaha.

Saya sudah coba beli berbagai macam teether untuk membantu melegakan..dari yang bentuknya bulat dan harganya murah, sampai yang bentuknya aneh-aneh dan harganya lumayan mahal, tidak ada yang benar-benar sukses melegakan si Alex.

Puncaknya saat Alex genap umur 15 bulan kemarin, Alex sakit batuk pilek dan demam. Ga doyan makan, ga mau minum susu, tangannya masuk ke mulut, wajahnya lesu dan marah-marah terus.  Setelah dua kali ke dokter, ternyata dia masuk angin, alergi dan ada tumbuh gigi. Pantes aja dia rewel banget…kasian banget.

Kebetulan besok harinya suami pergi melayat ke Jakarta dan dia dapat sharing dari tantenya kalau cucu si tante ini sedang banyak tumbuh gigi dan sedang dalam fase tantrum yang parah, sampai akhirnya dibelikan kalung amber beads dan tantrum si cucu jauh berkurang. Sebagai mami-mami masa kini, saya langsung browsing dan mengumpulkan informasi dan testimonial kalung amber beads ini. Siapa tau si kalung ini juga bisa membantu menenangkan Alex.

Kalung amber beads ini terbuat dari resin pohon ambar yang mengendap bertahun-tahun. Batu amber/ambar ini bisa berasal dari mana saja, namun yang paling populer berasal dari daerah Baltic, di daerah Scandinavian di Eropa sana. Tidak ada informasi scientific yang bisa saya temukan yang membuktikan kalau batu amber ini benar-benar bisa meredakan rasa nyeri, tapi karena saya sangat penasaran ingin membuktikan sendiri, saya cari toko-toko online yang menjualnya, karena setau saya di Semarang belum ada yang jual. Tidak sampai sejam, saya nemu toko online Amber Bead yang berbasis di Bali. Toko ini di endorse oleh beberapa artis mama muda, seperti Gisella (Gempi), Chelsea Olivia (Nastusha), dll; biasanya begitu melihat sistem endorse, saya mundur teratur, tapi untuk yang ini, saya periksa lebih lanjut dan ternyata artis endorsenya terus memakai kalung ini. So I came to conclusion, berarti kalungnya berguna dong, atau paling engga ada terasa manfaatnya.

Karena toko online Amber Bead ini melayani pembelian via Shopee, saya langsung cek model-model kalung dan gelang yang mereka tawarkan di Shopee. (Silakan dikepoin: https://shopee.co.id/amber_bead).

Pilihan saya jatuh di model kalung warna coklat. Kenapa kalung? Karena kalau gelang, saya bayangin akan lebih susah dipakai oleh Alex sepanjang hari…dia akan fully aware dan langsung tarik-tarik gelangnya, plus, karena tujuannya meringankan ngilu tumbuh gigi, saya pikir kalung letaknya lebih dekat dengan mulut/gusi, ya. Oya, saya juga pilih model yang paling simple dan yang paling murah (sekitar Rp. 190.000,-) karena saya pikir ini kan hanya coba-coba dulu.

Dan, setelah 2 minggu lebih pemakaian, I can say that Alex lebih tenang dan lebih jarang memasukkan tangan ke mulutnya, beside, Alex kelihatan lebih ganteng hahahaha…jadi sejauh ini saya happy dengan pembelian kalung amber beads ini. (8 out of 10).

Here is Alex dengan kalung amber beads nya:

amber bead 1Rekomendasi? Saya tidak fully rekomendasi ke semua ibu-ibu, karena tiap anak itu unik, saya belajar bahwa no size fits all kalo ngomong tentang anak. Tapi kalau untuk ibu-ibu yang open mind dan mau mencoba hal baru tanpa takut kehilangan uang minimal Rp. 190.000,-, saya sangat merekomendasikan kalung ini.  Oya, untuk menghindari resiko, saya gak lupa untuk melepas kalung pada saat si kecil tidur.

Semoga bermanfaat ya!

Advertisements

a Comeback, an Extra help and Working Mom Dilemmas

Untuk blog pertama comeback saya, saya bingung banget mau mulai dari mana…buanyak banget yang kepengen saya share; 18 months aint no short time right?

Setelah saya pikir-pikir, karena saya sekarang super sibuk dengan pekerjaan baru, anak pertama, kehamilan kedua dan project bisnis pertama saya; jadi saya berpikir untuk share (atau lebih tepatnya curhat ya…) seputar empat hal ini. Dan saya akan mulai dengan curhat working mom dilemma saya. Dibilang dilemma tapi bukan berarti saya ga happy ya..saya malah happy banget masih diberkati dengan pekerjaan dan kesempatan untuk aktualisasi diri di dunia pekerjaan. Tapi tetep ya, namanya seorang ibu, ada panggilan alam yang menurut saya ibu mana pun tetep akan mengalami suatu dilemma. Dilema panggilan ngasuh anak sendiri namanya…(maksa banget ngasi namanya, hehehe).

Sebelum saya mempunyai Alexander, anak pertama saya dan suami, saya menganut idealisme garis keras kalau dalam mengasuh anak, haruslah di handle sendiri, no nanny no day care. Mungkin karena saya sendiri dibesarkan langsung oleh orang tua saya ya, jadi rasanya wajib untuk meneruskan tradisi ini.

Well, setelah benar-benar hamil, idealisme di atas yang tadinya diakhiri dengan tanda seru, jadi berubah diikuti dengan tanda tanya.. banyak hal yang ada di pikiran saya dan jadi bahan pertimbangan sampai akhirnya memutuskan untuk merekrut tenaga tambahan: seorang babysitter/nanny.

Beberapa hal yang jadi pertimbangan saya dan suami pribadi:

1.       Keuangan keluarga
Mungkin terkesan terlalu mata duitan ya, tapi menurut saya, keuangan keluarga adalah salah satu pondasi utama dalam pembinaan keluarga karena faktor security seringkali berkaitan dengan keuangan keluarga.
Kalau keuangan keluarga baik, maka perencanaan kesehatan, pendidikan, asuransi sampai ke liburan dapat ditunjang dan menjadikan suasana keluarga yang less stress (bukan stress free).
Karena saya dan suami bertanggung jawab 50:50 dalam pemasukkan keuangan keluarga, maka akan sangat terasa ya kalau saya memutuskan untuk berhenti bekerja dan menjadi ibu rumah tangga. So, untuk alasan keuangan keluarga, kami butuh tenaga bantuan.

2.       Waktu
Jujur saja, saya dan suami adalah tipe orang yang butuh ‘me time’lumayan banyak…dua-duanya introvert. Jadi apabila sudah di rumah, kami berdua butuh beberapa saat untuk bisa menikmati ‘me time’. Biasanya suami pergi berolah raga atau main game, kalau saya biasanya browsing  berita, gossip atau social media. Terdengar egois ya? Hanya 1-2 jam memang, tapi kami berdua memang kenyataannya butuh banget ‘me time’ ini.

Oya, ditambah lagi, saya ini tipe yang tidak suka menelpon/whatsapp/sms update keadaan ke suami pada saat jam kerja. Kalau tidak ada keperluan yang mendesak ya sepanjang hari saya bisa tidak memberikan kabar ke suami. Ehh, bukan karena ga kangen suami lho, tapi kalau sudah ngasih kabar, biasanya suka susah berhenti komunikasi dan akibatnya susah fokus di kerjaan dan jadi galauuu..hahaha lebay banget sih. Jadi kami berdua juga butuh waktu untuk catching up saat di rumah. Saya menyebut ini sebagai ‘’charging time’’.

That’s why, dari faktor waktu, saya dan suami sangat membutuhkan bantuan orang lain untuk mensupport our ‘charging times’ dan ‘me times’.

3.       Keluarga
Kebetulan keluarga saya dan suami tidak ada juga yang bisa dititipin anak, karena banyak hal, misalnya mertua saya sudah sepuh, kakinya sudah sakit dan juga sibuk karena masih aktif dengan kegiatan gereja; sedang mami saya juga sudah meninggal. Basically, anggota keluarga tidak ada yang available untuk menjaga anak-anak kami. Jadi opsi mencari tenaga tambahan dirasa penting.

Ada banyak faktor lain selain tiga hal di atas, tapi basically tiga hal di atas ini yang menjadi alasan utama, akhirnya saya ‘merem’dan ‘nerimo’ kalau kami memang butuh a new support system, yang namanya Nanny.

BUT….tetep ya, setiap hari saya tetep ada galaunya, ada keinginan untuk ‘megang’ anak sendiri. Sampai pernah saya nangis sendiri apalagi kalau dapat kabar anak sakit/jatuh..rasanya kaya pengen memutar waktu dan mencegah musibah-musibah semacam itu.

Beruntung saya tidak sendirian ya, banyak teman-teman kerja yang kurang lebih senasib dengan saya, bahkan ada yang lebih parah, karena harus meninggalkan anak-anaknya keluar kota dalam waktu lama. Setiap kali mengingat mereka-mereka working moms yang sedang berjuang, saya jadi semangat dan positif lagi. Untuk mengurangi dilema dan rasa bersalah, saya coba untuk melakukan kompensasi-kompensasi, seperti ini:

1.       Quality time
Sebisa mungkin, kalau saya sudah di rumah, saya akan ‘pegang’Alex sendiri, meskipun si nanny juga nganggur. Entah itu mandiin dia di pagi/sore hari, nyuapin makan/snack atau bacain dongeng atau nonton TV bareng. Saya percaya every little things we do together is important.
Setiap weekend, saya juga berusaha plan short holiday atau activity yang hanya melibatkan saya, suami dan Alex. Kalau ada acara ulang tahun, kondangan, saya juga lebih sering ga ngajak si Nanny.

Repot memang, tapi dengan begini saya merasa saya bisa mengenal dan keep on track dengan perkembangan Alex.

2.       Video call
Setiap jam istirahat, saya akan atur waktu untuk video call sebentar dengan Alex. Jadi setiap hari, meskipun saya sedang kerja di luar kota, Alex akan tetap berinteraksi dengan saya, walaupun sangat minim.

3.       Menyiapkan masa depan si kecil
Karena saya memutuskan untuk jadi working mom, maka saya percaya saya berkontribusi pada persiapan masa depan dia, tidak hanya secara finansial seperti asuransi ya, tapi juga menanamkan mindset ke Alex bahwa perempuan dan laki-laki adalah equal. Dua-duanya bisa bekerja secara profesional dan dua-duanya bisa juga mengerjakan pekerjaan rumah tangga (contohnya, suami saya sangat helpful, dia bisa sapu pel dan cuci piring tanpa diminta). Saya harap dia bisa jadi pribadi yang open mind dan laki-laki yang tidak malu untuk bekerja equally dengan perempuan.

4.       Memberikan kenangan
Y
ang ini masih on project di awan awan hahahaha. Saya juga berusaha untuk mengabadikan momen-momen kami bertiga, tapi masih di level pake hp sih; Rencananya ingin saya buatkan album hardcopy supaya Alex punya kenang-kenangan saat sudah besar nanti. Doakan ya supaya segera terealisasi..hehehe.

5.       Sharing is Caring
Cara terakhir saya adalah juga dengan cara sharing/curhat seperti ini. Menurut saya, sangat sah kalau punya dilemma kaya gini, karena berarti saya masih sayang sama anak saya. Sharing dengan teman-teman senasib, membantu saya menyadari bahwa that I am not alone dan percaya bahwa Tuhan juga turut campur tangan melindungi keluarga.

Kepada ibu-ibu bekerja di luar sana, semoga ibu-ibu semua diberkati kesehatan dan kekuatan seperti Wonder Woman dan pikiran positif dan semangat yang tidak pernah padam, karena seperti ibu-ibu rumah tangga, kita juga adalah pencipta ‘rumah’ (homemaker) di keluarga and here is a short quote for all moms out there:

“Anak yang LUAR BIASA tidak dididik oleh IBU yang biasa, maka BERJUANGLAH”
(quote dari salah satu grup WA)

Comeback

Hello fellas,

Wow, sudah setahun lebih ternyata saya tidak aktif blogging..tepatnya 18 bulan sudah. Malu euy..apalagi melihat blog-blog lain yang going stronger each days, but i put my thick face front lah..and proudly (or shamelessly) comeback to this blog of mine.

Tentunya selama 18 bulan ini banyak sekali yang sudah terjadi dan saya harus nyicil catch up news update baik untuk review-review ataupun sharing ga pentingnya..

See you in the next posting and happy fasting buat yang sedang menjalankan ibadah puasa!