a Comeback, an Extra help and Working Mom Dilemmas

Untuk blog pertama comeback saya, saya bingung banget mau mulai dari mana…buanyak banget yang kepengen saya share; 18 months aint no short time right?

Setelah saya pikir-pikir, karena saya sekarang super sibuk dengan pekerjaan baru, anak pertama, kehamilan kedua dan project bisnis pertama saya; jadi saya berpikir untuk share (atau lebih tepatnya curhat ya…) seputar empat hal ini. Dan saya akan mulai dengan curhat working mom dilemma saya. Dibilang dilemma tapi bukan berarti saya ga happy ya..saya malah happy banget masih diberkati dengan pekerjaan dan kesempatan untuk aktualisasi diri di dunia pekerjaan. Tapi tetep ya, namanya seorang ibu, ada panggilan alam yang menurut saya ibu mana pun tetep akan mengalami suatu dilemma. Dilema panggilan ngasuh anak sendiri namanya…(maksa banget ngasi namanya, hehehe).

Sebelum saya mempunyai Alexander, anak pertama saya dan suami, saya menganut idealisme garis keras kalau dalam mengasuh anak, haruslah di handle sendiri, no nanny no day care. Mungkin karena saya sendiri dibesarkan langsung oleh orang tua saya ya, jadi rasanya wajib untuk meneruskan tradisi ini.

Well, setelah benar-benar hamil, idealisme di atas yang tadinya diakhiri dengan tanda seru, jadi berubah diikuti dengan tanda tanya.. banyak hal yang ada di pikiran saya dan jadi bahan pertimbangan sampai akhirnya memutuskan untuk merekrut tenaga tambahan: seorang babysitter/nanny.

Beberapa hal yang jadi pertimbangan saya dan suami pribadi:

1.       Keuangan keluarga
Mungkin terkesan terlalu mata duitan ya, tapi menurut saya, keuangan keluarga adalah salah satu pondasi utama dalam pembinaan keluarga karena faktor security seringkali berkaitan dengan keuangan keluarga.
Kalau keuangan keluarga baik, maka perencanaan kesehatan, pendidikan, asuransi sampai ke liburan dapat ditunjang dan menjadikan suasana keluarga yang less stress (bukan stress free).
Karena saya dan suami bertanggung jawab 50:50 dalam pemasukkan keuangan keluarga, maka akan sangat terasa ya kalau saya memutuskan untuk berhenti bekerja dan menjadi ibu rumah tangga. So, untuk alasan keuangan keluarga, kami butuh tenaga bantuan.

2.       Waktu
Jujur saja, saya dan suami adalah tipe orang yang butuh ‘me time’lumayan banyak…dua-duanya introvert. Jadi apabila sudah di rumah, kami berdua butuh beberapa saat untuk bisa menikmati ‘me time’. Biasanya suami pergi berolah raga atau main game, kalau saya biasanya browsing  berita, gossip atau social media. Terdengar egois ya? Hanya 1-2 jam memang, tapi kami berdua memang kenyataannya butuh banget ‘me time’ ini.

Oya, ditambah lagi, saya ini tipe yang tidak suka menelpon/whatsapp/sms update keadaan ke suami pada saat jam kerja. Kalau tidak ada keperluan yang mendesak ya sepanjang hari saya bisa tidak memberikan kabar ke suami. Ehh, bukan karena ga kangen suami lho, tapi kalau sudah ngasih kabar, biasanya suka susah berhenti komunikasi dan akibatnya susah fokus di kerjaan dan jadi galauuu..hahaha lebay banget sih. Jadi kami berdua juga butuh waktu untuk catching up saat di rumah. Saya menyebut ini sebagai ‘’charging time’’.

That’s why, dari faktor waktu, saya dan suami sangat membutuhkan bantuan orang lain untuk mensupport our ‘charging times’ dan ‘me times’.

3.       Keluarga
Kebetulan keluarga saya dan suami tidak ada juga yang bisa dititipin anak, karena banyak hal, misalnya mertua saya sudah sepuh, kakinya sudah sakit dan juga sibuk karena masih aktif dengan kegiatan gereja; sedang mami saya juga sudah meninggal. Basically, anggota keluarga tidak ada yang available untuk menjaga anak-anak kami. Jadi opsi mencari tenaga tambahan dirasa penting.

Ada banyak faktor lain selain tiga hal di atas, tapi basically tiga hal di atas ini yang menjadi alasan utama, akhirnya saya ‘merem’dan ‘nerimo’ kalau kami memang butuh a new support system, yang namanya Nanny.

BUT….tetep ya, setiap hari saya tetep ada galaunya, ada keinginan untuk ‘megang’ anak sendiri. Sampai pernah saya nangis sendiri apalagi kalau dapat kabar anak sakit/jatuh..rasanya kaya pengen memutar waktu dan mencegah musibah-musibah semacam itu.

Beruntung saya tidak sendirian ya, banyak teman-teman kerja yang kurang lebih senasib dengan saya, bahkan ada yang lebih parah, karena harus meninggalkan anak-anaknya keluar kota dalam waktu lama. Setiap kali mengingat mereka-mereka working moms yang sedang berjuang, saya jadi semangat dan positif lagi. Untuk mengurangi dilema dan rasa bersalah, saya coba untuk melakukan kompensasi-kompensasi, seperti ini:

1.       Quality time
Sebisa mungkin, kalau saya sudah di rumah, saya akan ‘pegang’Alex sendiri, meskipun si nanny juga nganggur. Entah itu mandiin dia di pagi/sore hari, nyuapin makan/snack atau bacain dongeng atau nonton TV bareng. Saya percaya every little things we do together is important.
Setiap weekend, saya juga berusaha plan short holiday atau activity yang hanya melibatkan saya, suami dan Alex. Kalau ada acara ulang tahun, kondangan, saya juga lebih sering ga ngajak si Nanny.

Repot memang, tapi dengan begini saya merasa saya bisa mengenal dan keep on track dengan perkembangan Alex.

2.       Video call
Setiap jam istirahat, saya akan atur waktu untuk video call sebentar dengan Alex. Jadi setiap hari, meskipun saya sedang kerja di luar kota, Alex akan tetap berinteraksi dengan saya, walaupun sangat minim.

3.       Menyiapkan masa depan si kecil
Karena saya memutuskan untuk jadi working mom, maka saya percaya saya berkontribusi pada persiapan masa depan dia, tidak hanya secara finansial seperti asuransi ya, tapi juga menanamkan mindset ke Alex bahwa perempuan dan laki-laki adalah equal. Dua-duanya bisa bekerja secara profesional dan dua-duanya bisa juga mengerjakan pekerjaan rumah tangga (contohnya, suami saya sangat helpful, dia bisa sapu pel dan cuci piring tanpa diminta). Saya harap dia bisa jadi pribadi yang open mind dan laki-laki yang tidak malu untuk bekerja equally dengan perempuan.

4.       Memberikan kenangan
Y
ang ini masih on project di awan awan hahahaha. Saya juga berusaha untuk mengabadikan momen-momen kami bertiga, tapi masih di level pake hp sih; Rencananya ingin saya buatkan album hardcopy supaya Alex punya kenang-kenangan saat sudah besar nanti. Doakan ya supaya segera terealisasi..hehehe.

5.       Sharing is Caring
Cara terakhir saya adalah juga dengan cara sharing/curhat seperti ini. Menurut saya, sangat sah kalau punya dilemma kaya gini, karena berarti saya masih sayang sama anak saya. Sharing dengan teman-teman senasib, membantu saya menyadari bahwa that I am not alone dan percaya bahwa Tuhan juga turut campur tangan melindungi keluarga.

Kepada ibu-ibu bekerja di luar sana, semoga ibu-ibu semua diberkati kesehatan dan kekuatan seperti Wonder Woman dan pikiran positif dan semangat yang tidak pernah padam, karena seperti ibu-ibu rumah tangga, kita juga adalah pencipta ‘rumah’ (homemaker) di keluarga and here is a short quote for all moms out there:

“Anak yang LUAR BIASA tidak dididik oleh IBU yang biasa, maka BERJUANGLAH”
(quote dari salah satu grup WA)

Advertisements

About stephanieselvy

a super happy married woman, a traveller, a reader, a kpop culture freak, a home cook, an art lover, a dreamer and a sleeper. I will post stuff that interest me (and prolly you) and will post in two different languages (English and Indonesian), a sorry in advance if my English is kinda lame :D Hope you can enjoy reading and I'll be so excited if you can drop your thoughts too :) Cheers!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: